SEJARAH JURNALISTIK
Dalam sejarah Islam, cikal bakal
jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir
besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga,
para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.
Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung
dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan.
Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul
ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi
Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan
kepada seluruh penumpang kapal.
Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar
kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai
kantor berita pertama di dunia. Masa Perkembangan Kegiatan penyebaran informasi
melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika
masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang
bernama “Phapyrus”.
Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak pertama
dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya "Kabar dari Istana".
Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur
seminggu sekali.
Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan
oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang
ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa
besar yang pertama kali diberitakan secara luas di suratkabar adalah pengumuman
hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.
Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama “Gazetta” lahir
di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia sedang perang
melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis tangan dan para
pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya dengan murah, tapi
kemudian surat kabar ini dicetak.
Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford
Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi
London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk
pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.
Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun 1690 M
dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk yang
modern, Publick Occurences Both Foreign and Domestick, di Boston yang dimotori
oleh Benjamin Harris.
Jurnalistik adalah
proses, teknik dan ilmu pengumpulan, penulisan, penyutingan dan publikasi
berita. Jurnalistikatau kewartawanan berasal dari kata Journal yang berati catatan harian atau catatan
mengenai kejadian sehari-hari, atau diartikan dengan surat kabar. Kata Journal berasal dari bahasa latin Djurnalis yang
berarti orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik. Jadi secara Etimologis
jurnalistik adalah laporan tentang peristiwa sehari-hari yang saat ini kita
kenal dengan istilah “berita”(news). Sedangkan secara singkat/sederhana
adalah kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Sedangkan menurut kamus, pengertian jurnalistik adalah kegiatan
untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah atau berkala
lainnya. Mernurut Lesikom Komunikasi, pengertian jurnalistik adalah pekerjaan
mengumpulkan, menulis, menyuting, dan menyebarkan berita dan karangan untuk
surat kabar, majalah dan media massa lainnya misalnya radio dan televisi.
Pengertian Jurnalistik Menurut Para Ahli
Pengertian
Jurnalistik Menurut Para Ahli - Selain pengertian
jurnalistik diatas, terdapat beberapa para ahli/tokoh-tokoh yang mendefinisikan
pengertian jurnalistik. Pengertian jurnalistik menurut para ahli adalah sebagai
berikut...
- F.Fraser Bond: Pengertian jurnalistik menurut F.Fraser Bond adalah
segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada
kelompok pemerhati.
- M.Ridwan: Menurutnya, pengertian Jurnalistik adalah suatu
kepandaian praktis mengumpulkan, mengedit berita untuk pemberitaan dalam
surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya.
- Adinegoro: Pengertian Jurnalistik menurut Adinegoro adalah semacam
kepandaian karang mengarang yang pokoknya memberi perkabaran pada
masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya.
- Summanang: Menurunya, pengertian jurnalistik adalah segala sesuatu
yang menyangkut kewartawanan.
- Onong U.
Efendi: Jurnalistik
adalah teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada
menyebarluaskannya kepada khalayak.
- Amar dan
Sumadiria: Pengertian
Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita
kepada khalayak seluas-luasnya/
- Erik Hodgins
(Redeaktur Majalah Time): Menurutnya
pengertian jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana
dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan
keadilan.
- A.W. Widjaya: Pengertian Jurnalistik menurut A.W. Wijaya merupakan
suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita
ataupun alasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari
yang aktual dan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya.
- Roland E.
Wolseley: Menurunya,
Pengertian Jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran,
pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan
umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat
kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran.
- Ensiklopedia
Indonesia: jurnalistik
adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang
kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara teratur, dengan menggunakan
sarana-sarana penerbitan yang ada.
Sejarah Jurnalistik Indonesia
Sejarah Jurnalistik
Indonesia - Awal mulanya, sejarah jurnalistik diawali dari
komunikasi antar manusia yang bergantung dari mulut ke mulut. Catatan sejarah
yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes
Getenberg.
Di Indonesia,
perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Sebagian pejuang
kemerdekaan Indonesia pun menggunakan kewartawanan sebagai alat perjuangan. Di
era-era inilah Bintang Timoer, Java Bode, Bintang Barat, dan Medan Prijaji
terbit.
Pada masa kedudukan
Jepang mengambil alih kekuasaan, dimana setiap korang dilarang. namun pada
akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Sinar Baru, Asia Raja, Suara
Asia, Tjahaja, dan Sinar Matahari.
Dan semenjak
kemerdekaan Indonesia yang membawa keuntungan bagi kewartawanan. Pemerintah
Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi.
Menjelang penyelenggaraan Asia Games IV, peemrintah memasukkan proyek televisi.
Sejah tahun 1962 tersebut Televisi Republik Indonesia hadir dengan teknologi
yang layar hitam putih.
Di Era Presiden
Soeharto, media massa banyak dibatasi. Seperti kasus Majalah Tempo dan Harian
Indonesia Raya merupakan dua contoh bukti sensor dalam kekuasaan Era Soeharto.
Kontrol yang dipegang oleh PWI (Departemen Penerangan dan persatuan Wartawan
Indonesia). Dari situasi tersebut muncullah Aliansi Jurnalis Independen yang
mendeklarasikan diri di Wiswa Sirna Galih, Jawa Barat. Sebagian dari
aktivitasnya berada di sel tahanan.
Sejarah kemerdekaan
Pers/jurnalis beradap di titik saat Soeharto di gantikan oleh BJ Habibie.
Disaat itulah banyak media massa yang muncul dan PWI bukan satu-satunya
organisasi profesi.
Kegiatan kewartawanan diatur oleh UU Pers No.
40. Tahun 1999 yang dikeluarkan Dewan Pers dan UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002
yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI.
Bentuk-Bentuk Jurnaistik
Bentuk-bentuk
jurnalistik terbagi dalam 3 bagian besar antara lain sebai berikut..
- Media
Cetak
- Media
elektronik auditif
- Audio
Visual
Referensi:
1.
Assegaff, 1982, Jurnalistik
Masa Kini: “Pengantar Ke Praktek Kewartawanan”, Jakarta, Ghalia Indonesia.
2.
Kasman,Suf,2004, Jurnalisme
Universal: “Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an”,
Jakarta, Penerbit Teraju.
Sedia Willing,2010. Jurnalistik : "Petunjuk Teknik Menulis Berita". Jakarta, Erlangga.
Comments
Post a Comment